POTRET PENDIDIKAN INDONESIA MASA LALU, KINI DAN HARI ESOK

A.Pendahuluan

Bangsa yang maju dan beradab akan terlihat dari pola pendidikan yang dilaksanakan oleh bangsa tersebut. Pendidikan akan menjadi penentu gerak langkah bagi kemajuan suatu bangsa. Ketika Jepang dijatuhi bom atom oleh sekutu dalam perang dunia ke-2 maka Kaisar Hirohito memanggil para mentrinya dan bertanya,”masihkah ada guru yang tersisa “. Hal ini mengindikasikan bahwa Jepang boleh saja hancur secara fisik,tetapi jiwa kependidikan merupakan faktor paling utama. Biarlah buminya hangus dan hancur berantakan,tetapi dengan kemajuan pendidikan semua itu akan dapat dibangun kembali. Artinya pendidikan merupakan pilar penting untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Sekilas gambaran fenomena yang terjadi di Jepang tersebut menjadi contoh yang menggugah perasaan kita dewasa ini bahwa pendidikan memang merupakan pilar yang akan menentukan maju mundur suatu bangsa. Tolak ukur kemajuan memang terletak pada pendidikan yang diselenggarakan.Oleh karenanya faktor guru,kurikulum,sarana dan prasarana pendukung pendidikan sangat fital diperhatikan. Pendidikan bukan hal yang acak-acakan ,dan seharusnya bukan sebagai ajang uji coba secara terus menerus,dia harus terencana dengan baik. Semua stak holder yang terlibat didalamnya harus benar-benar serius dalam mengemban tugas mulia ini. Rasulullah juga telah mengisyaratkan bahwa “ kalau ingin menguasai kehidupan didunia,haruslah dengan ilmu,kalau ingin menguasai kehidupan akhirat,harus pula dengan ilmu.,dan kalau ingin menguasai keduanya (dunia dan akhirat) haruslah dengan ilmu. Ilmu akan didapat dalam dunia pendidikan. Ilmu tidak akan muncul dengan sendirinya. Maka tuntutlah ilmu dari mulai lahir sampai mati.(long life education). Menuntut ilmu itu juga melalui berbagai tahapan,tidak ada yang serba instan,semua melalui proses dan sistem yang terintegrasi kedalam kemauan dan akan ditopang oleh beberapa komponen sebagai pendukungnya. Komponen tersebut bisa saja berbentuk sarana dan peralatan,dan bisa juga berbentuk tenaga ahli atau guru.

Manusia sebagai makhluk sosial (Zoon politicon) tidak dapat berdiri sendiri,tidak mampu berkembang sendiri tanpa bantuan manusia lain. Tidak akan dapat belajar sendiri menemukan pengetahuan tanpa bantuan orang lain. Maka tepat sekali bantuan lingkungan akan membentuk pola pengetahuan seseorang. Dalam hal inilah maka pendidikan suatu bangsa akan diwarnai oleh kebijakan yang dilakukan dalam pengembangan pendidikan suatu negara. Pendidikan Indonesia masa lalu (masa kolonial) diwarnai oleh kinginan penguasa,dan pada masa Orde Baru diwarnai pula oleh kepentingan politik Orde baru. Dan begitu seterusnya,sampai sekarang masalah pendidikan tetap menjadi kehendak penguasa. Akan kah pendidikan Indonesia terus begitu sampai nanti? Maka tulisan ini ,mencoba menganalisa fenomena yang ada tentang pendidikan Indonesia masa sekarang dan prediksi masa datang. Semua nya merupakan analisis dari berbagai fenomena dewasa ini yang menggambarkan keadaan pendidikan Indonesia. Analisa dilakukan berdasarkan kenyataan yang kita lihat sekarang,banyak permasalahan yang menjadi batu penarung bagi kemajuan pendidikan ,baik dari segi kebijakan,kurikulum yang selalu trial and error,sarana dan prasarana yang terus menjadi polemik para pejabat elit pemerintahan sampai kepada sikap prilku rakyat yang sebagiannya tidak peduli,dan adapula yang cuek tidak mau tahu. Inilah yang akan dicoba menggali berbagai fenomena diatas,semoga dapat menjadi kaca perbandingan dan bahan kajian untuk pembenahan pendidikan selanjutnya demi kemajuan bangsa dimasa depan.

B.Pembahasan

Menilik kebelakang jauh sebelum Indonesia merdeka,atau pada masa penjajahan,pendidikan dalam bentuk berdirinya sekolah sudah ada. Kolonial yang menjajah bangsa ini telah menerapkan sistem pendidikan untuk anak bangsa ini,walaupun pendidikan itu diarahkan untuk kepentingan penguasa. Penjajahan Belanda yang berlangsung kira-kira 350 tahun telah memberikan warna tersendiri bagi pendidikan bangsa Indonesia. Ditengah tekanan penjajah,tetap ada bangsa Indonesia yang mengecap perkembangan pendidikan dan keilmuan. Tersebutlah waktu itu para pemuda Indonesia yang belajar di Denhaq negeri Belanda seperti: Ir.Soekarno,M.Hatta,M.Yamin, H.Agus Salim,DR.Soetomo, Dr.Wahidin Sudiro Husodo dan lain-lain. Mereka adalah putera terbaik bangsa yang pernah mengecap pendidikan tinggi di negara penjajah. Artinya pendidikan Indonesia masa kolonial pernah menelorkan beberapa tokoh dan pakar keilmuan yang nantinya menjadi pimpinan pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka dan berdiri menjadi sebuah negara,pendidikan terus berlanjut,menyambung lembaga pendidikan yang telah dirintis masa kolonial. Anak bangsa terus menggeliat mencari ilmu,berbagai ilmu pengetahuan mulai mereka serap dari berbagai negara dan instansi lembaga pendidikan. Para ulama dan pemuka agama yang ada, mendirikan berbagai lembaga pendidikan,seperti munculnya pesantren,surau,rangkango dan sekolah dengan berbagai latar keilmuan. Indonesia mulai menampakkan kemajuan dalam sektor pendidikan.Para pemuda Indonesia tampil dengan berbagai keahlian baik dari segi ilmu eksakta,humaniora,science dan berbagai kemampuan teknologi untuk membangun bangsa ini.

Begitupun ketika berdirinya masa pemerintahan Orde baru yang notabenenya mengutakmakan poltik penguasa,namun pendidikan tetap menjadi sektor yang diperlukan. Berbagai sekolah terus dikembangkan. Para Kiyai dan ulama terus berlomba mendirikan berbagai lembaga pendidikan formal dan non formal,semua bertujuan untuk membangun bangsa yang mulai berdiri . Tapi semua usaha para pendahulu kita itu tidak terlepas dari berbagai kendala yang selalu menjadi batu penarung kemajuan pendidikan kita. Kurikulum telah dirancang sedemikian rupa ,sarana dan prasarana terus dibenahi,dan anggaran negara terus digelontorkan untuk sektor pendidikan. Alhasil pendidikan Indonesia mulai menapak kearah kemajuan. Tahun tujuh puluh sampai delapan puluhan pendidikan Indonsia mulai disegani oleh bangsa lain,terutama negara tetangga.Mereka tertarik dengan kemajuan pendidikan Indonesia. Mereka mengirim putera terbaiknya untuk belajar di Indonesia. Banyak pelajar dan mahasiswa dari negara tetangga yang menuntut ilmu di Indonesia,yang nanti setelah tamat mereka mengembangkan nya dinegara asalnya. Pendidikan Indonesia masa delapan puluhan itu cukup membanggakan,dan peringkat dunia tidak terlalu menjolok,walau masih jauh dari harapan . Tetapi setelah tahun dua ribuan,pendidikan kita mulai kembali tertinggal dari bangsa lain .Begitu pula peringkat pendidikan kita didunia jauh berada dibawah negara tetangga. Apa yang menjadi penyebab semua itu ? Setelah ditelusuri sampai kebawah,didapat sinyalemen penyebabnya,diantaranya kurikulum yang belum sesuai,sarana prasarana yang belum memadai dan kwalitas SDM yang terus menurun. Maka pemerintah sebagai pemegang otoriter pendidikan mencoba membenahi sektor ini. Kurikulum dirobah,para pakar yang ahli dengan perombakan kurikulum coba dikumpulkan untuk mengkaji ulang kurikulum yang sudah lama.Sarana dan pra sarana kembali dibenahi,sumber daya manusia sebagai tenaga ahli yang akan mendidik anak bangsa digenjot kemampuannya. Pokoknya segala lini dicoba untuk dibenahi. Tapi kendala datang lagi,krisis multidimensional memporakporandakan bangsa ini. Berbagai gejolak politik muncul,disamping bencana alam datang melanda bangsa ini. Anggaran negara terus defisit,sektor ekonomi dan keuangan negara terus anjlok. Hutang negara makin bertambah,bahkan ironisnya lagi hutang negara yang sangat besar sudah harus dipikulkan pada anak cucu kita yang akan lahir pada dua turunan yang akan datang. Dahsyat memang,segala lini terserang oleh berbagai fenomena yang sulit dan rumit untuk dipecahkan. Bukan saja negara kita yang mengalami hal ini. Beberapa negara lain didunia juga mengalami krisis yang sama,tapi krisis multidimensional paling fatal dirasakan oleh bangsa kita. Siapa yang salah, tidak ada yang dapat disalahkan.Melainkan harus kembali berbenah,maka muncul gagasan baru. Kurikulum kembali harus ditinjau ulang,sarana kembali diperbaharui. Lembaga pendidikan kita diambang batas yang sangat riskan. Pemerintah sebagai pemegang power kekuasaan sektor pendidikan mencoba mencari alternatif pemecahannya. Tapi lagi-lagi jauh dari harapan,kembali kurikulum yang dianggap belum mantap,maka kurikulum kembali jadi pusat pembenahan kembali (trial end Error ). Akibatnya kurikulum kita sudah mengalami beberapa kali perbaikan dan penyempurnaan. Terkadang perubahan kurikulum ini belum waktunya,dan seakan dipaksakan. Seyoganya kurikulum akan ditinjau ulang atau dirombak kembali minimal setelah sepuluh tahun berjalan ,namun baru setahun jalan kembali ditukar,dengan alasan penyempurnaan. Tapi kenyatannya tetap tidak sempurna. Harapan untuk menapak kemajuan pendidikan tetap jadi dilema yang tak teruraikan.Dimana –mana mulai muncul kebijakan baru oleh raja-raja kecil di daerah yang mengklaim punya hak otonomi bidang pendidikan. Muncul kebijakan baru didaerah tentang pendidikan didaerah. Tiap daerah berlomba memajukan pendidikan,namun semua usaha itu malah menambah ruwetnya sektor pendidikan ini. Akibatnya,pendidikan Indonesia m akin terpuruk,sementara negara lain makin maju dengan berbagai terobosan untuk menggapai kemajuan pendidikan. Lantas bagaimana pendidikan kita masa datang ?

Melihat kenyatan sekarang yang terjadi dapat diprediksi bahwa kemungkinan untuk cepat maju sangat imposible. Selama kebijakan dalam sektor pendidikan masih seperti ini,dapat diprediksi pendidikan kita tetap akan tertinggal dari negara lain. Memang sudah banyak dewan pakar,Profeser dan DR bidang science dan Humanis telah puluhan dan bahkan ratusan muncul,tapi kiprah mereka belum maksimal memajukan sektor pendidikan. Lalu apalagi penyebab semua kemandekan ini ? Maka kembali dikaji ulang,dicoba mencari akar permasalahan.Maka titik temunya di anggap terletak pada kekurangan sarana dan sistem pendidikan yang dijalankan. Untuk jalan keluarnya sarana dicoba diperbaiki. Segala kebutuhan pendidikan yang menyangkut sarana dan pra sarana kembali dibenahi. Tapi muncul lagi masalah baru,para penglola bidang sarana dan pra sarana ini melakukan tindakan yang sangat memalukan sekaligus memilukan. Prilaku bangsa kita jauh dari akhlak tuntunan Nabi. Koropsi meraja lela,Para penglola keuangan negara ,para pejabat pelaku perbaikan melakukan hal tercela seperti itu. Alhasil perubahan kearah perbaikan sektor pendidikan tetap jadi kendala. Lalu siapa lagi yang disalahkan ? Apa memang kurikulum yang tidak tepat,atau sarana dan prasarana yang tidak memadai ? Atau mungkin sumb er daya manusia nya yang tidak becus ? Asumsi sementara dari penulis mengindikasikan bahwa penyebab utama tidak majunya pendidikan kita termasuk yang akan datang,terletak pada kesadaran manusianya,tarutama pengemban tugas pendidikan itu sendiri. Baik dari sektor pemerintah yang belum betul-betul serius dalam pengelolaan,apalagi pada masyarakat yang tidak menumbuhkan kepedulian utama untuk kemajuan sektor pendidikan ini. Terutama sekali kesadaran masyarakat terhadap ketaatan kepada aturan yang berlaku,khususnya bagi kemajuan pendidikan. Apabila kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan ini sudah betul-betul tertanam,dan apabila pemerintah sebagai pemegang kendali betul-betul pula serius untuk membenahi,yakinlah bahwa kemajuan masa yang akan datang dapat diraih. Lantas bagaimana menumbuhkan kesadaran pada masyarakat ini ? Kunci utamanya juga terletak pada keteladanan dari penguasa. Apabila penguasa memberikan keteladan pada masyarakatnya,maka mereka akan ikut berprilaku sesuai dengan tun tutan dan tuntunan. Namun bangsa kita belum lagi sadar,belum lagi taat azas dan taat aturan.Semua ingin menang sendiri,semua ingin maju sendiri,prinsip kebersamaan mulai pudar.Ketika sudah jatuh kejurang dalam baru mencari kambing hitam untuk disalahkan. Belum banyak masyarakat yang mau berkorban untuk dunia pendidikan,bisa dihitung orang yang peduli pada anak jalanan,belum lagi pengangguran yang semakin bertambah banyak.Semua keadaan dan fenomena diatas akan menjadi indikasi bagaimana potret pendidikan kita dimasa yang akan datang,Allahu a’lam bisshawab

C.Kesimpulan

Pendidikan merupakan pilar utama bagi kemajuan suatu bangsa.Maka pendidikan harus menjadi prioritas bagi pembangunan,dengan tidak mengenyampingkan sektor lain. Untuk memajukan pendidikan tidak hanya dengan merobah kurikulum dan melengkapi sarana dan prasarana saja,melainkan juga memperhatikan pembangunan SDM yang akan mengemban pendidikan tersebut. Oleh karena itu untuk mencapai pendidikan yang lebih baik dimasa datang,yang menjadi prioritas utama adalah pembenahan SDM nya,terutama menumbuhkan kesadaran bagi setiap elemen masyarakat dan pemegang kekuasan untuk berbenah diri.Terutama berbenah dari segi ketaatan pada azas dan aturan. Taat azas berarti memberikan keteladan bagi masyarakat pada umunya,sehingga pendidikan sekarang menjadi cermin perbandingan untuk kebijakan pembangunan pendidikan masa depan.

http://bdkpadang.kemenag.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=577:drszanwirspd&catid=41:top-headlines

Perlunya Pendidikan Vokasi

Pendidikan merupakan aspek yang penting dalam kehidupan. Pendidikan pun merupakan indikator majunya suatu bangsa. Dengan adanya pendidikan, seseorang dapat mencapai derajat tertinggi dalam kehidupannya. Umumnya banyak masyarakat indonesia menuntut pendidikan sampai jenjang SMA atau sederajat. Seiring berjalannya waktu dan kemajuan teknologi, peradaban manusia pun semakin maju dan persaingan pun semakin meningkat. Industri dan perusahaan pun membutuhkan tenaga kerja yang lebih ahli. Mereka lebih menyukai lulusan perguruan tinggi sebagai tenaga kerjanya. Karena itu ulusan SMA atau sederajat pun tidak cukup. Masyarakat pun dituntut untuk meningkatkan taraf pendidikannya, tidak hanya sampai SMA. Pada umumnya banyak industri atau perusahaan menyukai lulusan pendidikan vokasi sebagai tenaga kerja ahlinya. Karena itulah masyarakat perlu meningkatkan taraf pendidikan sampai perguruan tinggi. Pendidikan vokasi sendiri adalah pendidikan yang ditujukan agar peserta didik memiliki keahlian terapan tertentu dan agar lebih siap kerja dengan jenjang sampai diploma 4. Menyadari ini, masyarakat pun diharapkan untuk mengikuti pendidikan vokasi agar dapat menjadi tenaga kerja yang ahli. Di dalan proses pembelajaran pendidikan vokasi pun lebih banyak melakukan praktik sehingga dapat mengatasi kebosanan dalam proses pembelajarannya. Namun terdapat masalah lain dalam mengikuti pendidikan vokasi. Faktor ekonomi merupakan faktor yang sering menjadi penghambat bagi masyarakat untuk belajar di perguruan tinggi. Sejauh ini pemerintah telah memberikan bantuan untuk masuk perguruan tinggi negeri dengan jalur bidikmisi. Namun ketatnya persaingan dalam jalur bidikmisi pun membuat sebagian orang tidak melanjutkan pendidikannya. Untuk mengatasinya masyarakat pun sebaiknya mencari kerja dahulu guna mencari dana untuk melanjutkan pendidikan ketika memiliki keuangan yang cukup untuk melanjutkan pendidikan. Bagaimanapun sulitnya untuk melanjutkan pendidikan, masyarakat tetap harus berusaha untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Untuk menjadi tenaga kerja ahli, masyarakat memang sebaiknya mengkuti pendidikan vokasi agar mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik. Pendidikan vokasi pun ditujukan agar masyarakat lebih siap menghadapi persaingan global terlebih dalam era MEA sekarang ini. Karena itulah dengan kesadaran dari diri sendiri marilah kita berusaha meningkatkan taraf pendidikan guna mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/prasetiokomp/perlunya-pendidikan-vokasi_58ec3ac774977372287df9e4